GBI Gema Golgota

Selasa, 23 April 2013

MENGALAMI PROSES PEMURNIAN
Baca:  Keluaran 25:31-40

"
Haruslah engkau membuat kandil dari emas murni; dari emas tempaan harus kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya-dengan tombolnya dan kembangnya-haruslah seiras dengan kandil itu."  Keluaran 25:31


Siapakah kita sebelum mengenal Kristus?  Kita adalah orang-orang berdosa yang seharusnya menerima hukuman dan dimurkai Allah.  Sungguh,  "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak."  (Roma 3:10-12).  Namun Allah begitu mengasihi kita, dan bukti kasihNya adalah  "...Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya."  (1 Yohanes 4:9).  Ini membuktikan bahwa kita ini berharga di mataNya.  FirmanNya,  "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,"  (Yesaya 43:4).  Kalau tidak demikian, Yesus tidak perlu jauh-jauh datang dari sorga dan mengorbankan nyawaNya di atas kayu salib untuk menyelamatkan kita.

     Seiring berjalannya waktu seringkali kita lupa akan kasih Tuhan yang luar biasa ini.  Kita begitu mudahnya memberontak dan menyalahkan Tuhan.  Terlebih-lebih saat masalah atau kesesakan terjadi dalam hidup ini kita langsung berkata,  "Tuhan itu tidak adil.  Tuhan tidak mengasihiku."  Sebagai anak-anak Tuhan, selayaknyakah kita berkata demikian?  Memang terkadang Tuhan ijinkan masalah terjadi dan menerpa kita sebagai bagian dari kasihNya juga.  Dia ingin membentuk dan memproses kita, karena  "...Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?"  (Ibrani 12:6-7).  Ini sama dengan kandil yang menjadi salah satu perkakas penting di dalam Kemah Suci.  Kandil itu harus terbuat dari emas yang murni dan merupakan hasil tempaan.  Berarti emas itu terlebih dahulu harus diproses begitu rupa.  Ditempa berarti dipukul secara bertubi-tubi, mungkin dengan palu atau godam.  Andai emas itu bisa bersuara pastilah ia akan berteriak karena kesakitan.  Tapi setelah proses itu selesai, kandil yang terbuat dari emas tempaan itu pun menjadi perkakas yang indah dan menyala di Kemah Suci.

     Supaya kehidupan kita seperti kandil yang menyala bagi kemuliaan nama Tuhan, kita pun harus melewati 'tempaan' yang mungkin akan kita rasakan sakitnya.  Namun jangan putus asa dan menyerah sebab Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menjadi karya yang indah dan luar biasa.  Karena itu berhentilah mengeluh dan bersungut-sungut!

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."  Roma 8:28
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2013 -

0 komentar:

Posting Komentar